Kami Kehilangan..
31 Agu 2026 128
‘SI FEMINIST’ MUDA ITU….
Muda, ceria, dan energik. Ia tidak hanya salah satu besutan UBB Angkatan pertama tahun 2006, tapi juga salah satu belia muda yang cukup rajin menulis dan bicara tentang emansipasi perempuan. Pandangannya tajam, gaya bicaranya berapi-api, namun senyum dan gaya seriusnya sering silih berganti menjadi ciri khasnya. Pergaulannya luas, ia tak pilih-pilih teman, termasuk ia berkawan dengan semua ragam organisasi. Saya sendiri mengenalnya sebagai mahasiswa baru di Sosiologi UBB pada Agustus 2006, kira-kira 20 tahun lampau, tempat saya mula-mula banyak menghabiskan kelas-kelas awal sebagai dosen.
Sejak itu pula, ia tidak hanya menjadi mahasiswa, tapi juga mitra dalam berbagai penelitian, gagas acara, seminar, diskusi, bahas isu sosial, politik, lingkungan, juga jejaring pertemanan. Ia adalah satu di antara lulusan UBB Angkatan pertama yang kemudian menempuh jalan menjadi dosen di almamaternya. Menjadi Dosen Tetap, lalu menjadi ASN, terakhir masih menyandang status sebagai Sekretaris Jurusan dan Calon Doktor Sosiologi UGM. Di balik ceria dan aktivitasnya yang seabrek, siapa sangka ia bertaruh tangguh dengan setitik sakit yang kemudian menyebar cepat sejak setahun terakhir, merampas keceriannya, pun melemahkan raganya secara perlahan.

Sejak berkawan dengan Rumah Sakit pada awal tahun ini, kami menyaksikan betapa ia kuat dan tangguh berjuang merawat asa sehatnya dibalik tanyanya yang perlahan ‘ngape harus ku’. Sejak itu pula saya menyaksikan betapa banyak orang yang menyayanginya, silih-ganti mengunjunginya, bergiliran rupa cara menyemangatinya. Tak kurang cara sahabat membezuknya, tak sedikit bilang orang menguatkannya, sama seperti di hari-hari terakhirnya ia masih sering mengabsen nama-nama yang kebetulan mungkin masih berkelebat dibenaknya.
Sore ini ia menghadap sang pemiliknya, tak ada kuasa dan upaya mampu menahannya, karena sesungguhnya Allah Sang Khalik lebih menyayanginya. Luna Febriani, si feminist muda yang sering mengalah dalam debat bersama kami karibmu para penyaru maskulin ini, hormat kami padamu, tabik dan doa terbaik untukmu.
(Ibrahim- https://www.instagram.com/reel/Dcqj3vfJqMG/?igsi=ZDQ1cXBmMWFpOGVk)
Kami Kehilangan
Sekarang, kami kehilangan selamanya sosokmu, Yuk Lun. Prodi Sosiologi UBB yang kehilangan sosok intelektual muda kritis dan progresif. Beberapa dari kami yang sedari dulu kerap bersamamu, kehilangan teman yang ceria dan asik. Ini sangat menyedihkan, Yuk Lun..
Tak hanya itu, publik juga akan kehilangan sosok-mu. Tidak ada lagi gagasan "memihak" darimu kepada mereka yang marginal-- yang kerap muncul di media dan menjadi konsumsi publik luas. Tak muncul lagi sosok perempuan yang penuh semangat dan lantang dalam membawa diskusi yang sangat disukai oleh beberapa instansi publik. Sekarang dan ke depan, mustahil, di akun medsosmu kami menerima share link buah pikiranmu yang renyah dan bernas terkait persoalan publik.
Ya, kami akan kehilangan. Prodi, teman, dan publik..
Fisik dan jiwamu telah pergi meninggalkan semuanya. Kami kehilangan dan mengucapkan selamat tinggal untuk itu semua, Yuk Lun.
Sekarang, kami kehilangan selamanya sosokmu, Yuk Lun. Prodi Sosiologi UBB yang kehilangan sosok intelektual muda kritis dan progresif. Beberapa dari kami yang sedari dulu kerap bersamamu, kehilangan teman yang ceria dan asik. Ini sangat menyedihkan, Yuk Lun..
Tak hanya itu, publik juga akan kehilangan sosok-mu. Tidak ada lagi gagasan "memihak" darimu kepada mereka yang marginal-- yang kerap muncul di media dan menjadi konsumsi publik luas. Tak muncul lagi sosok perempuan yang penuh semangat dan lantang dalam membawa diskusi yang sangat disukai oleh beberapa instansi publik. Sekarang dan ke depan, mustahil, di akun medsosmu kami menerima share link buah pikiranmu yang renyah dan bernas terkait persoalan publik.
Ya, kami akan kehilangan. Prodi, teman, dan publik..
Fisik dan jiwamu telah pergi meninggalkan semuanya. Kami kehilangan dan mengucapkan selamat tinggal untuk itu semua, Yuk Lun.

Setelahnya, kami izin Yuk, untuk terus menjadikan sosokmu sebagai contoh kepada rekan mahasiswa bagaimana menjadi intelektual publik, bagaimana menjadi intelektual kritis yang mengambil posisi, yang tidak ingin berdiri sebagai intelektual "bebas nilai".
Barangkali ini sebagai salah satu cara untuk merawat "Warisan" Yuk Luna dan menjadi cara mengingat eksistensi subjek kritis dan sosok Feminis, Luna Febriani, S.Sos., M.A.
(Herza- https://www.instagram.com/p/DcroKDFEk-p/?igsi=bTRhdDc4bTE5emNr)