Nurmala Dewi dan Skripsi Uniknya di RS Jiwa

03 Agu 2026 1079
Nurmala Dewi dan Skripsi Uniknya di RS Jiwa

Nurmala Dewi tampil sebagai wisudawati yang memikat dalam Yudisium FISIP Universitas Bangka Belitung periode April–Juli 2026. Mahasiswi Program Studi Sosiologi ini dinobatkan sebagai lulusan terbaik FISIP dengan IPK 3,82 dan predikat Dengan Pujian. Sejak awal perkuliahan, ia dikenal aktif secara akademik dan tumbuh dalam lingkar pertemanan yang sehat. Dewasa ini, istilah “circle” kerap digunakan untuk menyebut lingkungan pertemanan yang produktif. Bagi perempuan berusia 22 tahun tersebut, lingkungan yang baik akan membawa seseorang ke arah yang positif, termasuk dalam membangun atmosfer akademik yang mendukung. Situasi itu menjadikan Nurmala pribadi yang matang sekaligus konsisten menjaga kualitas prestasinya.

Keberanian Nurmala semakin terlihat ketika ia memilih tema penelitian skripsi yang tidak biasa, yakni kajian di rumah sakit jiwa. Sekilas, penelitian ini mungkin dianggap lebih dekat dengan psikologi. Namun, ia berhasil menempatkan fenomena tersebut dalam perspektif sosiologi. Karya ilmiahnya berjudul “Mekanisme Kontrol dan Resistensi Orang Dengan Gangguan Jiwa dalam Institusi Total (Studi Kasus di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)”. Melalui penelitian itu, Nurmala menggambarkan kehidupan pasien di RS Jiwa Sungailiat, bagaimana mereka menghadapi mekanisme kontrol, serta bentuk-bentuk resistensi yang muncul dalam keseharian. Temuannya menunjukkan empat mekanisme kontrol utama: pembatasan ruang gerak dan kontrol sosial, pembentukan pola aktivitas sesuai norma baru, reduksi otonomi individu terhadap kepemilikan barang, serta pengawasan total terhadap interaksi sosial. Di sisi lain, ia juga menemukan resistensi berupa penolakan terhadap rutinitas, upaya melarikan diri, sikap diam dan penarikan diri, hingga perilaku agresif. Analisis ini memperlihatkan bagaimana institusi total bekerja secara ketat dalam mengendalikan individu, sekaligus membuka ruang bagi munculnya perlawanan.

Motivasi Nurmala memilih tema tersebut berawal dari pengalamannya di mata kuliah Teori Sosiologi Modern. Saat itu, dosen pengampu Herza M.A. menjelaskan konsep institusi total dari Erving Goffman dengan mencontohkan pesantren, penjara, dan lembaga anak. Dari penjelasan itu, ia mulai tertarik mendalami teori tersebut, mencoba memahami bagaimana lembaga-lembaga tertutup bekerja, dan akhirnya menjadikan rumah sakit jiwa sebagai fokus kajian. Baginya, rumah sakit jiwa adalah institusi yang unik karena subjek yang dikontrol adalah pasien dengan gangguan jiwa, berbeda dengan penjara atau pesantren yang lebih sering dikaji. Ketertarikan itu semakin kuat ketika ia menelusuri literatur akademik di Google Scholar dan menemukan bahwa penelitian tentang institusi total masih terbatas, umumnya hanya membahas penjara, pesantren, atau lembaga anak. Kajian tentang rumah sakit jiwa hampir tidak ada, sehingga ia melihat peluang untuk memberikan kontribusi baru dalam perspektif sosiologi. Walaupun rumah sakit jiwa kerap dianggap lebih dekat dengan psikologi, Nurmala meyakini bahwa sosiologi memiliki ruang yang luas untuk membicarakan masyarakat, termasuk individu-individu yang berada di dalam rumah sakit jiwa sebagai bagian dari struktur sosial.

Selain skripsi yang berbobot, alumnus SMAN 1 Sungailiat ini juga aktif menulis dan menghasilkan publikasi berupa buku ber-ISBN berjudul “Seiring waktu bergerak isu sosial turut berdetak”, serta artikel di jurnal ilmiah terindeks SINTA. Potensi akademiknya sudah terlihat sejak masa sekolah, dan di UBB ia mampu mempertahankan kualitas tersebut hingga akhir masa studi. Dalam kesan dan pesannya, ia menegaskan bahwa “Musuh terbesar dalam proses skripsi adalah diri sendiri. Lawan rasa malas, tetap yakin pada kemampuan diri, selalu berpikir positif, dan jangan pernah melupakan restu serta doa orang tua.”

Koordinator Program Studi Sosiologi, Herza, M.A., turut memberikan apresiasi atas capaian Nurmala. Menurutnya, berapa pun masa studi yang ditempuh, setiap mahasiswa telah berhasil mencapai garis akhir sebagai sarjana. “Gelar sarjana memang simbolik, tetapi maknanya luas. Ia menjadi pintu masuk menuju dunia baru yang penuh tantangan dan tanggung jawab,” ujarnya. Herza juga menyoroti kiprah Nurmala sebagai sosok inspiratif. “Nurmala adalah contoh mahasiswa yang tumbuh dalam circle akademik yang sehat. Mereka tidak hanya nongkrong, tetapi juga bekerjasama mengerjakan tugas, menulis bersama, dan bertukar pikiran. Dukungan dosen di prodi turut memperkuat potensi mahasiswa untuk berkembang,” tambahnya.

Kisah Nurmala Dewi adalah potret seorang perempuan yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga berani menembus batas kajian sosiologi dengan riset yang unik dan relevan. Ia menjadi inspirasi bagi mahasiswa Sosiologi UBB, bahwa keberhasilan bukan sekadar capaian nilai, melainkan juga keberanian memilih tema penelitian yang bermakna, membangun lingkungan belajar yang sehat, serta konsistensi dalam berproses. Semangatnya menunjukkan bahwa yudisium bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan baru menuju dunia profesional dan pengabdian sosial.