Semangkuk Rokok, Sepenggal Rezeki: Cerita di Balik Tradisi Ngereman

17 Sep 2026 0
Semangkuk Rokok, Sepenggal Rezeki: Cerita di Balik Tradisi Ngereman
 Semangkuk Rokok, Sepenggal Rezeki: Cerita di Balik Tradisi Ngereman
Di tengah aktivitas pertambangan timah di perairan Bangka, perempuan ngereman menjadi bagian dari praktik sosial yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Salah satu sosok yang menjadi tokoh utama sekaligus perintis aktivitas tersebut adalah Bunda Rahma, yang telah menjalani ngereman sejak tahun 1995.
Lahir di Lampung dan datang ke Bangka pada 1975, Bunda Rahma sebelumnya bekerja sebagai karyawan jemur ikan dan pernah bekerja di tambang inkonvensional (TI). Ia kemudian diminta oleh salah seorang pekerja tambang untuk menjadi ngereman. Dari pekerjaan tersebut, Bunda Rahma pernah memperoleh hasil yang cukup besar hingga mampu membangun rumah. Pengalaman itu kemudian membuat masyarakat sekitar ikut mengikuti aktivitas ngereman.
Dalam praktiknya, ngereman memiliki aturan tidak tertulis. Bunda Rahma menceritakan, satu paket ngereman dahulu bernilai sekitar Rp50 ribu dan dalam sehari dapat mencapai tiga hingga empat paket. Namun, apabila hasil tambang penambang kurang dari 20 kilogram, ngereman tidak memperoleh jatah. Jatah biasanya diberikan setelah pencucian terakhir, baik dalam bentuk timah maupun uang ketika sudah berada di darat.
Salah satu tradisi unik dalam aktivitas tersebut adalah “nadang rokok”,