Belajar Gerakan Sosial dan Konservasi Alam, Mahasiswa Sosiologi UBB Kunjungi Komunitas Kelekak Bangka

06 Okt 2026 5
Belajar Gerakan Sosial dan Konservasi Alam, Mahasiswa Sosiologi UBB Kunjungi Komunitas Kelekak Bangka

BANGKA — Melalui kegiatan Case Method pada mata kuliah Gerakan Sosial dan Civil Society, mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB) angkatan 2024 berkunjung langsung ke Komunitas Kelekak Bangka di Kampung Zed, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari secara langsung praktik gerakan sosial dan konservasi berbasis komunitas di tengah masyarakat.

Kegiatan yang terdiri dari gabungan 3 kelas ini merupakan bagian dari pembelajaran yang diampu oleh dosen Program Studi Sosiologi UBB, Dr. Iskandar Zulkarnain, M.A., Irwan, M.Sos. dan Rizky Ananda Putri, M.A. Melalui pendekatan Case Method, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep gerakan sosial dan civil society di ruang kelas, tetapi juga diajak melihat bagaimana konsep tersebut diwujudkan melalui pengalaman dan praktik komunitas.

Dalam kegiatan ini mahasiswa dibagi dalam dua sesi kegiatan yakni pada pagi dan siang hari. Kegiatan pagi para mahasiswa yang berjumlah sekitaran 90 orang ini mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama anggota Komunitas Kelekak Bangka. Diskusi berlangsung dalam dua sesi pemaparan yang membahas proses terbentuknya komunitas, dinamika gerakan sosial, upaya mempertahankan eksistensi komunitas, serta kegiatan konservasi.

Setelah diskusi, pada sesi siangnya mahasiswa melakukan kunjungan singkat ke Kelekak Satu untuk mempelajari fokus gerakan kelekak, jenis tanaman dan lokasi keberadaan hewan lokal Bangka.

Sesi pertama FGD disampaikan oleh Icha yang memperkenalkan sejumlah satwa dilindungi yang menjadi perhatian dalam kegiatan konservasi Komunitas Kelekak Bangka. Beberapa di antaranya adalah tarsius atau mentilin, kukang, serta mengkubung atau colugo yang dikenal sebagai lemur terbang. Pemaparan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari gerakan sosial.

Dalam diskusi, Icha juga berbagi pengalaman mengenai proses membangun dan mempertahankan sebuah komunitas. Menurutnya, sebuah komunitas perlu memahami kebutuhan masyarakat sekaligus mampu memberikan manfaat. Kepedulian menjadi dasar penting agar sebuah gerakan tidak berhenti pada kepentingan sesaat.

Ia menekankan bahwa gerakan sosial tidak dapat hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Kepedulian, kreativitas, serta kemampuan membangun relasi menjadi unsur penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan. “Kalau mau melakukan gerakan sosial, tingkatkan dulu kepeduliannya. Kalau tujuannya cuma uang, itu tidak akan jadi. Kalaupun berhasil, tidak akan bertahan lama,” ujarnya.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Andre selaku Ketua Komunitas Kelekak Bangka. Ia menjelaskan bahwa komunitas tersebut saat ini memiliki 12 anggota, dengan pembagian tugas antara pengelolaan internal dan kegiatan di lapangan. Anggota komunitas berasal dari pemuda lokal serta beberapa wilayah di Bangka Belitung, termasuk mahasiswa.

Andre menjelaskan bahwa aktivitas Kelekak Bangka bermula sejak 2009 dari ketertarikan terhadap hutan dan satwa liar. Seiring berkembangnya relasi dengan berbagai pihak, termasuk yayasan lingkungan, kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih terorganisir. Kelekak Bangka mulai bergerak secara terorganisir pada 2024 dan diresmikan pada Februari 2025.

Dalam menjalankan gerakannya, Kelekak Bangka tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga mengembangkan edukasi lingkungan melalui program “Kelekak Go To School”. Program tersebut menjadi salah satu upaya komunitas untuk memperkenalkan pentingnya lingkungan dan konservasi kepada anak-anak sekolah.

Komunitas Kelekak Bangka juga terlibat dalam berbagai aktivitas sosial di lapangan, termasuk membantu proses evakuasi warga yang tersesat di kawasan hutan. Bagi komunitas, gerakan tidak harus menunggu tersedianya dana dalam jumlah besar untuk dapat dimulai. “Tidak harus ada uang dulu baru kita bergerak,” tegas Andre.

Nama “kelekak” digunakan sebagai bentuk pengemasan gerakan konservasi berbasis kearifan lokal. Istilah tersebut merujuk pada kawasan hutan yang dikelola masyarakat dalam konteks Melayu Bangka. Dalam perkembangannya, terdapat beberapa bentuk kelekak, di antaranya kelekak wakaf dan kelekak keluarga.

Saat ini, Komunitas Kelekak Bangka telah membina empat desa, yaitu Labuh Air Pandan, Kemuja, Desa Gudang, dan Permis. Andre menegaskan bahwa Kelekak Bangka bukanlah destinasi wisata, melainkan komunitas yang bergerak dalam bidang konservasi. “Kami bukan tempat wisata, kami komunitas. Impian terbesar kami adalah satu kelekak, satu desa,” pungkasnya.

Melalui kegiatan Case Method ini, mahasiswa Sosiologi UBB memperoleh pengalaman belajar secara langsung dengan menghubungkan konsep gerakan sosial dan civil society dengan praktik yang dilakukan komunitas di lapangan. 

Laporan : Dinda dan Chelsea/Tim Medsos UBB